Pacitan, warkimsutarto.com – Memasuki hari pertama kegiatan belajar mengajar pada semester genap tahun ajaran 2026, perhatian terhadap kesehatan peserta didik kembali menjadi sorotan. Anggota DPRD Kabupaten Pacitan dari Komisi II, dr. H. Warkim Sutarto, MARS, mengingatkan pentingnya menjaga kondisi fisik dan mental siswa. Menurutnya, kesehatan merupakan fondasi utama keberhasilan proses pembelajaran di sekolah.
Warkim menilai momentum awal semester harus dimanfaatkan secara optimal oleh seluruh elemen pendidikan. Sekolah, tenaga pendidik, dan orang tua perlu memastikan peserta didik berada dalam kondisi prima. Dengan kesehatan yang terjaga, siswa akan lebih siap mengikuti kegiatan belajar. Tanpa kondisi tubuh dan mental yang baik, proses pembelajaran tidak akan berjalan maksimal.
Lingkungan Sekolah Sehat Jadi Kunci Pembelajaran
Legislator yang membidangi sektor kesehatan tersebut menegaskan pentingnya lingkungan sekolah yang bersih dan aman. Lingkungan yang nyaman dinilai berperan besar dalam menunjang kualitas belajar siswa. Oleh karena itu, kebersihan ruang kelas dan halaman sekolah harus menjadi perhatian utama.
Selain kebersihan, ketersediaan fasilitas sanitasi yang layak juga dinilai sangat penting. Sarana pendukung kesehatan perlu dipastikan berfungsi dengan baik. Hal ini bertujuan untuk menjaga kesehatan peserta didik selama berada di lingkungan sekolah.
Warkim juga menekankan perlunya mengaktifkan kembali peran Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Menurutnya, UKS tidak hanya berfungsi sebagai tempat pertolongan pertama. UKS juga menjadi pusat edukasi kesehatan bagi siswa sejak usia dini.
“Kesehatan anak tidak bisa dipisahkan dari suasana belajar yang kondusif. Lingkungan sekolah yang bersih dan fasilitas kesehatan yang siap pakai akan membuat siswa merasa aman,” ujar dr. H. Warkim Sutarto, MARS, Senin (5/1/2026).
Kesehatan Mental Anak Pasca Libur Panjang
Selain kesehatan fisik, Warkim memberikan perhatian khusus pada kesehatan mental siswa. Kondisi ini dinilai penting, terutama setelah peserta didik menjalani libur panjang. Masa transisi menuju rutinitas sekolah sering kali memicu tekanan psikologis.
Ia menilai, tekanan tersebut dapat muncul jika anak tidak mendapatkan pendampingan yang tepat. Oleh karena itu, proses adaptasi perlu dilakukan secara bertahap. Lingkungan sekolah diharapkan mampu memberikan rasa aman bagi siswa.
Pendekatan yang humanis dan komunikatif dinilai efektif membantu anak menyesuaikan diri. Peran pendidik dan orang tua menjadi faktor kunci dalam proses ini. Dengan pendampingan yang tepat, siswa dapat kembali belajar dengan nyaman.
“Adaptasi kembali ke suasana belajar membutuhkan dukungan bersama. Tenaga pendidik dan orang tua harus peka terhadap kondisi psikologis anak,” tambahnya.
Perlu Sinergi Sekolah, Puskesmas, dan Orang Tua
Lebih lanjut, Warkim mendorong terbangunnya sinergi antara sekolah, puskesmas, dan orang tua. Kerja sama ini dinilai penting untuk memantau kesehatan anak secara berkelanjutan. Pemantauan rutin dapat mencegah munculnya gangguan kesehatan.
Ia juga berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait dapat memastikan program kesehatan sekolah berjalan optimal. Dengan langkah tersebut, Pacitan diharapkan mampu menyiapkan generasi penerus yang sehat dan cerdas. Generasi tersebut juga diharapkan memiliki daya saing di masa depan.
