
warkimsutarto.com – Tak semua orang tumbuh dengan keberuntungan. Tapi bagi dr. Warkim Sutarto , senang datang dalam bentuk didikan keras dan penuh makna dari sang ayah. “Jangan pernah bergantung pada orang lain,” pesan ayah yang selalu ia ingat hingga hari ini. Nilai ini menjadi prinsip hidup yang melekat dalam dirinya sejak kecil berikut ” Kisah Inspiratif dr. Warkim Sutarto – Dari Kambing, Becak, Hingga Menjadi Sosok Panutan”.
Di masa SD, anak-anak seusianya mungkin masih sibuk bermain, namun Warkim kecil sudah mulai belajar menyisihkan uang. Ia dibor untuk mandiri secara finansial sejak dini—sebuah hal yang tidak lazim dilakukan anak-anak seusianya saat itu.
Dari Menggembala Kambing ke Usaha Becak, Mewarisi Semangat Usaha dari Orang Tua
Ketika duduk di kelas enam SD hingga SMP, Warkim mulai ikut menggadukan kambing —sebuah kegiatan yang umum dilakukan di desanya. Ia belajar dari sang ayah yang juga menjalankan usaha menggadukan sapi dan kambing. Dari sini, kepercayaan diri dan insting bisnisnya mulai terasah.
Warkim bukan sekedar ikut-ikutan. Ia mulai punya mimpi sendiri: ingin memiliki usaha becak seperti milik ayahnya. Di Purwokerto, ayahnya dikenal sebagai pemilik armada becak dengan label “Berdikari.” Setiap becak dengan nama itu, pasti milik keluarga mereka.
Langkah Awal Membangun Usaha Sendiri
Saat menginjak kelas 2 SMP, Warkim mulai mengubah niat menjadi aksi. Ia berkonsultasi dengan ayahnya, bagaimana caranya kambing-kambing yang digadukan bisa menjadi modal membeli becak? Dengan bimbingan sang ayah, kambing-kambing tersebut dijual, dan akhirnya ia bisa membeli satu unit becak pertama.
Becak itu ia beri nama “Bermandiri.” Sebuah nama yang bukan hanya berbeda dari milik ayahnya, tetapi juga simbolisasi dari cita-citanya: menjadi pribadi yang mandiri dan berdiri atas usahanya sendiri.
Membaca Armada, Membangun Mimpi, Menabung dari Setoran, Menambah Becak
Setelah memiliki satu becak , Warkim terus menabung dari hasil setoran pengemudi becaknya. Setiap uang setoran ia kumpulkan dan simpan. Cukup, ia membeli becak kedua, lalu ketiga, dan seterusnya. “Semua saya tabung sedikit demi sedikit. Dari satu jadi dua, lalu tiga. Begitu terus sampai saya SMA,” kenangnya.
Bermandiri, Simbol Usaha dan Identitas Diri
Di saat masih mengenakan seragam putih abu-abu, Warkim sudah memiliki lebih dari satu becak. Usahanya yang ia beri nama Bermandiri BM DKR menjadi penanda bahwa ia bukan lagi sekedar anak dari pemilik usaha becak , tapi juga seorang pelaku usaha muda yang mengelola bisnisnya sendiri.
Nama usahanya pun menjadi pembeda yang kuat dari usaha milik ayahnya, Berdikari BDKR . Nama kedua ini bukan sekadar label, tetapi filosofi hidup yang dijalankan oleh dua generasi yang saling menginspirasi.
Pelajaran Hidup yang Tak Tergantikan. Mandiri Sejak Dini, Sukses Kemudian Hari
Kisah masa kecil dr. Warkim Sutarto adalah bukti bahwa kesuksesan tak datang secara instan. Ia terbentuk karena pengalaman, kerja keras, dan nilai-nilai hidup yang kokoh. Tak heran jika di kemudian hari, ia dikenal sebagai sosok profesional yang tidak hanya cakap secara akademis, namun juga memiliki landasan hidup yang kuat.
Kisah Inspiratif dr. Warkim Sutarto ini dimulai dari Kambing, berlanjut ke becak, dan kini menjadi bagian dari perjalanan besar seorang dokter yang menginspirasi banyak orang.